Pedagang Nasi Kuning

24 Feb 2014

Pedagang Nasi Kuning

Dinginnya pagi berembun dan kabut tipis bahkan gerimis hujan tak menyurutkan para wanita di sekitar tempat tinggal saya untuk menjajakan kenikmatan di pagi hari. Salah satunya yang sering saya lihat adalah seorang wanita berkerudung yang tubuhnya gemuk menyiratkan bahwa ia menikmati pekerjaannya, entahlah…paling tidak, insyaAllah ia akan mendapatkan rizqi dari Allah SWT berupa penghasilan uang/penghasilan halal dari para pelanggannya,sebuah pekerjaan yang halal dan memuaskan hasrat para penikmatnya atau pelanggan yang sedang kelaparan di pagi hari.

Tak hanya satu, dua bahkan berjejer setiap sekian ratus meter, para wanita (ada juga yang berjenis kelamin pria) sejak matahari seakan masih malu-malu menampakkan dirinya sampai menjelang siang, mereka menawarkan jasa/jualannya sepiring atau sepincuk (satu bungkus) nasi kuning.

Setiap pagi memang selain para PNK (Pedagang Nasi Kuning), juga ada PSH (Penjual Surabi Haneut/ hangat), ada juga PSU (Penjual Sangu Uduk/Nasi uduk), dan juga ada PKT (Penjual Kupat Tahu)..

PSK, Pekerjaan Halal Penjual Kenikmatan

Pedagang Nasi Kuning, Pekerjaan Halal Penjual Kenikmatan

Sepiring Nasi Kuning adalah sarapan pagi yang murah meriah dan mengenyangkan alias 3M (Murah, Meriah, Mengenyangkan). Bayangkan hanya dengan uang Rp 500,- rupiah, Anda sudah mendapatkan pesanan Anda, tapi kalau 500 rupiah mah dapat kurupuknya (kerupuknya) atau sambelnya doank ya…hehe…

Maksudnya dengan uang Rp 5000,- (lima ribu rupiah), yang tadi “nol” nya ketinggalan satu di terminal. Bahkan 4000 perak juga boleh malah 2500 perak juga boleh asal nggak malu belinya.. :-) kita sudah merasa kenyang dan insyaAllah nikmat apalagi kalau lagi sehat dan lapar berat sampai cacing-cacing di dalam perut membikin grup band.

Nah, saudara-saudara sekalian, kapal udara ditalian…Bagaimana “asbabul nujul” sabab musababnya di sebut nasi kuning? “ah, eta mah pertanyaan nu lieur atuh nya”..! ya jelas saja disebut nasi kuning, lha wong warnanya kuning ! kalau warnanya hijau khan disebut nasi hejo!. (Jangan nafsu gitu donk ah!). Siapa juga yang nafsu…yeee…

Warna kuning dari nasi kuning bukan berasal dari zat pewarna tektil, eh kurang “s” nya, maksudnya pewarna tekstil, namun warna kuning ini didapatkan dari kunyit yang ditambahkan kedalamnya sebagai bumbu inti.

Nasi kuning adalah makanan khas Indonesia. Makanan ini terbuat dari beras yang dimasak bersama dengan kunyit serta santan dan rempah-rempah. Dengan ditambahkannya bumbu-bumbu dan santan, nasi kuning memiliki rasa yang lebih gurih daripada nasi putih. Nasi kuning adalah salah satu variasi dari nasi putih yang sering digunakan sebagai tumpeng. Nasi kuning biasa disajikan dengan bermacam lauk-pauk khas Indonesia. Sajian seporsi nasi kuning lengkap, dikelilingi teri kacang, empal gepuk, balado udang, urab, dan sambal goreng kentang. Dalam tradisi Indonesia warna nasi kuning melambangkan gunung emas yang bermakna kekayaan, kemakmuran serta moral yang luhur. Oleh sebab itu nasi kuning sering disajikan pada peristiwa syukuran dan peristiwa-peristiwa gembira seperti kelahiran, pernikahan dan tunangan. Dalam tradisi Bali, warna kuning adalah salah satu dari empat warna keramat yang ada, disamping putih, merah dan hitam. Nasi kuning oleh karena itu sering dijadikan sajian pada upacara kuningan. (http://id.wikipedia.org/wiki/Nasi_kuning).

nasi-kuning-lauk

Kembali cerita PNK adalah adalah pekerjaan yang halal. Sementara di akhir zaman ini orang banyak yang sudah tidak peduli lagi apa yang dia makan, harta yang ia peroleh, apakah dari hasil pekerjaan yang halal ataukah yang harom.

Seperti di sabdakanRasulullah SAW:

” la ya’tiyanna zamaanun ‘alannas, laayubaalil mar’u bima akhodal-maal aminhalaalin au min haroomin.” (HR. Bukhary)

artinya: tidak datang pada kalian suatu zaman (zaman akhir) dimana seseorang sudah tidak peduli lagi, harta yang ia dapatkan apakah dari yang halal ataukah dari yang harom”.

Berdagang adalah salah satu hal yang direkomendasikan Rasulullah SAW dalam mencari maisyah (mata pencaharian). Bukanlah sebuah pekerjaan yang hina nahkan merupakan suatu pekerjaan penghasil uang untuk menutupi kebutuhan keluarga/rumah tangga untuk kelangsungan ngebulnya dapur, biaya sekolah anak-anak dan keperluan lainya bahkan terlebih bisa shodaqoh dan infaq dari hasil jerih payah usaha bukan dari meminta-minta, bukankah itu pekerjaan yang mulia?. Bukankah kita menghidupi keluarga kita dari hasil jerih payah kita, maka setiap suapan yang dimakan anak istri kita menjadi shodaqoh baginya?

Berdagang nasi kuning tentunya terjadi mutually benefit yang dalam bahasa biologi disebut simbiosis mutualisme alias saling untung menguntungkan. Sang pedagang mendapatkan uang dan pembelinya mendapat rasa kenyang dan kenikmatan di pagi hari. Bukankah kalau kita sedang sehat, makan hanya dengan Sepiring nasi kuning, dipurulukan sawud, bonteng, irisan dadar endog, irisan cabe, ditambih surawung, syukur-syukur aya gepuk nyaan (sanes geup kurupuk), lebih lengkapnya ditambihan kurupuk akan terasa nikmat. Bayangkan kalau sedang kurang sehat, semua terasa pahit, makan dengan tahu tempe pun asa nuang tahu tempe teu asa nuang sambel goreng daging (kalau sedang sakit makan dengan tahu tempetidak terasa seperti makan dengan sambal goreng daging, red). ya iya lah… :-)


TAGS Nasi Kuning


-

Author

Search

Recent Post